Quilt, Berseni Tinggi dan Berharga Premium

QUILT dan batik, di mata Nisa Hariadi, sama-sama punya nilai tinggi. Teknik quilt yang berasal dari Amerika Serikat juga menekankan keterampilan tangan. Perempuan kelahiran Bandung, 6 Januari 1969, itu menegaskan quilt merupakan wujud harmoni talenta, rasa, dan seni.

“Quilting sendiri sebetulnya merupakan seni menggabung-gabungkan kain dengan ukuran dan potongan tertentu untuk membentuk motif-motif yang unik. Jahitan harus sama jika dilihat dari sisi mana pun dan membentuk gambar tertentu,” kata Nisa.

Nisa memproduksi quilt dalam tiga pakem yang berlaku pada teknik seni menjahit tersebut, yaitu patchwork, applique, dan paper piecing. Patchwork banyak disukai para ekspatriat dari Amerika, Prancis, dan lain-lain. Model itu cenderung kaku sebab polanya geometri, segitiga, segi empat, atau trapesium.

Adapun applique kebanyakan disukai orang Asia karena sangat variatif. Potongan-potongan kain dapat dibentuk menjadi gambar seperti binatang, bunga-bungaan, rumah, kupu-kupu, anak-anak Jepang, pemandangan, dan lain sebagainya.

Yang terakhir ialah teknik paper piecing. Kain perca yang sudah dialasi kertas di belakangnya dilapis lagi dengan kain, lalu kain tersebut dijahit dengan lapisan teratas.

Nisa melanjutkan sebenarnya ada juga teknik lain yang banyak disukai ekspatriat, yaitu memorie. Namun, quilt jenis itu lazimnya khusus dipesan orang-orang yang pernah mengalami duka dalam hidup pribadi atau anggota keluarga atau pernah memiliki pengalaman berkesan dalam hidupnya, seperti ditinggal pergi kekasih.

Misalnya, seorang ibu pernah meminta Nisa membuat quilt yang bahannya antara lain potongan baju anaknya bertuliskan hobi olahraga lacrosse, potongan baju yang menunjukkan anak tersebut pernah sekolah di Rydell High School, gambar piano, sebuah saku celana jins, dan tulisan India.

Beberapa potongan tersebut digabungkan sehingga membentuk sebuah rangkaian kenangan tentang sang anak. Sang anak terebut rupanya meninggal dunia tiga tahun lalu karena ditabrak mobil.

“Quilt memang barang baru bagi orang Indonesia. Karena itu, beberapa kali ikut pameran selalu banyak pertanyaan. Tapi karena di luar negeri sudah populer, mereka sudah paham nilai seninya. Langganan saya, orang-orang kedutaan dari Prancis, Amerika, dan lainnya,? ujar Nisa di kediaman sekaligus tempat kerjanya, di Cipete, Jakarta Selatan, pertengahan pekan ini.

Quilt, kata Nisa, selamanya tidak pernah diproduksi secara massal karena tingkat kesulitan saat pembuatannya. Kerumitan ada pada aplikasi yang ditambahkan. Misalnya ada produk yang menggunakan bordiran tiga dimensi. Harganya lebih mahal Rp500 ribu daripada produk quilt biasanya. Tingkat pembuatan yang lebih rumit lagi yaitu saat menambahkan aplikasi sulam pita atau melukis gambar tertentu di atas kain.

Oleh karena itu, dalam sebulan, Nisa hanya menghasilkan empat potong selimut quilt single atau beberapa potong produk quilt seperti sarung bantal dan taplak meja. Satu selimut ukuran king size atau paling besar bisa dikerjakan sebulan penuh.

Produk bernilai seni
Nisa berkali-kali diingatkan suaminya, Dwianugrah Hariadi, kelahiran Medan, 10 Maret 1962, bahwa quilting yang dikerjakannya merupakan karya seni. Letak nilai dan harga hasil karyanya ada pada talenta yang dimiliki dan sentuhan seni (art) pada setiap produk yang dihasilkan. Atas rekomendasi sang suami, karya quilting Nisa dinamakan Nisa the Art of Quilting.

“Harga yang dibayar adalah karena seni dan talenta yang saya miliki. Dan itu mahal,” ujarnya.

Harga terendah sekitar Rp250 ribu untuk jenis taplak meja atau bantal kursi hingga Rp6 juta untuk selimut ukuran king size. Harga cukup mahal karena yang dibayar adalah karya seni buatan tangan.

“Saya tidak berpikir untuk membuat toko. Sebab hingga sekarang saya masih memproduksi quilt berdasarkan pesanan,” ujarnya.

Harga quilt-nya juga mahal karena Nisa sangat mementingkan kualitas bahan-bahan. Sebagian bahan quilt merupakan produk impor dengan kualitas premium, termasuk bagian pelapis yang diimpor dari Australia atau AS. Benang yang dipakai pun impor atau minimal merek Astra buatan Indonesia. ?Kualitasnya bagus dan nomor satu,? ujarnya.

Untuk kain, Nisa biasanya membeli kain batik bali, katun produksi Bandung, atau hasil berburu di Pasar Baru, Jakarta.

Manajemen produksi
Rupanya, satu produk bisa dikerjakan banyak orang, tergantung keahlian masing-masing. Namun, seluruh proses pembuatan diawasi ketat oleh Nisa. Nisa sendiri yang memilih gambar atau kain yang sesuai dengan imajinasi atau pesanan dari customer.

Setelah gambar didesain, produk tersebut dibordir. Biasanya Nisa menyerahkannya kepada ibu-ibu di Quilt Community, sebuah kumpulan pehobi sekaligus pebisnis quilt, untuk mengerjakannya.

Setelah dibordir atau dibentuk aplikasi tertentu, produk tersebut diserahkan ke Nisa. Setelah itu, Nisa menyerahkannya untuk di-quilt oleh ibu-ibu perajin quilt di Medan, Sumatra Utara.

“Proses quilt selalu di Medan karena di sana ada beberapa ibu yang pernah diajari untuk mengerjakan quilt. Setiap bulan, saya kirim 1 kodi ke Medan untuk di-quilt,” kata Nisa.

Setelah quilt selesai, produk dikirim kembali ke Jakarta untuk finishing, lalu diserahkan ke customer. “Ini semua saya lakukan agar ibu-ibu bisa bekerja di rumah, mendapat penghasilan tambahan tanpa melupakan keluarga,? ujarnya.

Berkenalan di AS
Nisa berkenalan dengan quilt saat mendampingi sang suami yang bertugas di Dallas, Texas, AS, pada 1994. Dari Texas, sang suami dipindahkan ke Rumbai, Pekanbaru.

Di sana, rupanya Nisa bergabung dengan ekspatriat yang salah satu kegiatan mereka ialah kursus quilting. Pada 1999-2002, Nisa kembali mendampingi suami bekerja di Houston, Texas, AS. Di sana ia kembali memperdalam ilmu quilt-nya.

Setelah itu, Nisa kembali menemani suami bekerja di Pekanbaru. Dengan modal pengetahuan belajar di Houston, saat itu Nisa sudah berani mengajarkan quilt dalam acara kumpul ibu-ibu.

Pada 2004, Nisa dan suami pindah ke Jakarta. Sang suami mengetahui kemampuan Nisa. Ia pun menawarkan agar Nisa membagikan pengetahuan tersebut kepada ibu-ibu di Jakarta.

Nisa kemudian mengajar para ibu di sekitar kompleks rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan. Sementara mengajar, Nisa menghasilkan puluhan karya dengan pola berbeda yang hanya dipajang di rumah. Saat itu, quilt-nya belum dijual.

Namun, saat Nisa sedang bertandang ke rumah sahabatnya, yang juga telah memiliki wallhanging karyanya, datang seorang tamu. Ia staf kedutaan asing. Sang tamu tercengang kala melihat hiasan dinding tersebut. Ia lalu menawari Nisa mengikuti pameran Women International Club (WIC). Pada 2005, untuk pertama kalinya Nisa berpameran di acara berskala besar seperti WIC, yang saat itu digelar di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan.

Di sana ia banyak berkenalan dengan ekspatriat dan warga lokal yang kemudian menjadi pelanggannya. Hingga kini, Nisa sudah berpartisipasi di berbagai pameran seperti Inacraft, La Femme, Indocraft, Australian and New Zealand Embassy Bazaar, American Women Association Bazaar, Indian Women Association Bazaar, dan komunitas-komunitas kedutaan lainnya.

“Produk saya juga perlahan mulai dikenal,” tutur ibu dua anak itu.

Salah satu konsumennya ternyata adalah Ibu Negara. Pada April 2008, saat mengikuti pameran Inacraft di Jakarta yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono, istri orang nomor satu di negeri itu mampir di stan Nisa.

Ani tertarik pada sajadah dan tas yang dibuat Nisa. Ia memesannya untuk digunakan naik haji. “Dua bulan saya menyelesaikan pesanan itu,” kata Nisa. Sajadah quilt termasuk produk baru Nisa yang mulai diproduksi saat ia naik haji pada 2006.

Setelah pulang, Nisa membawa contoh-contoh sajadah. Dalam benaknya, ia berpikir membuat quilt sajadah. Sebab, belum ada sajadah yang dibuat dengan teknik quilt. Rupanya quilt sajadah direspons pasar.

Pada 2007 hingga 2009, pemesanan sajadah berlipat ganda. ?Pada 2007, kita kewalahan untuk terima tawaran. Kantor-kantor pada saat bulan puasa banyak memesan. Dari kepolisian juga pesan sajadah,? ceritanya. PE (*/M-1)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *