Menyulam dan Mengenyam Laba

panji
USAHA tidak semata dibangun dengan uang. Jaringan juga memainkan peran penting. Setelah melihat sek tor wirausaha semakin menggeliat, beberapa perusahaan perbankan mulai memberikan perhatian. Ragam bantuan dipersiapkan untuk para pelaku wirausaha. Tujuan mereka para pelaku dapat terus bertahan di tengah perkembangan zaman.

Lusia Hariyany, 50, pemilik usaha berlabel Amira Handicraft, mengaku banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman berkat bantuan perusahaan perbankan. Pada 2010, ia didatangi pihak bank yang hendak melihat dan bertanya seputar usaha yang telah dilakoni Lusia sejak 2004. Setelah melalui beberapa tahap seleksi, Lusia pun mendapat kepercayaan pinjaman modal dari program kemitraan Bank Mandiri.Bukan hanya berupa uang, melainkan juga pelatihan dan seminar yang membuat dirinya semakin kaya pengetahuan.

“Mondar-mandir di beberapa pameran itu sangat berarti karena mendatangkan banyak jaringan dan usaha semakin dikenal oleh orang dari luar daerah. Cakupan pembeli pun semakin meluas,” kata Lusia yang sudah tiga kali mendapat kesempatan mengikuti pameran di Ibu Kota, ketika ditemui di Jakarta, akhir pekan lalu.Rumput ketak Pentingnya mengikuti pameran juga dikemukakan Hamid Awaludin, 39. Pengusaha muda itu mengubah rumput ketak menjadi beragam bentuk, antara lain alas gelas, piring, baki, hingga tas. Kreasinya menarik perhatian banyak orang. Pasalnya, bahan yang digunakan tidak biasa, rumput ketak. Produk itu dijual di toko miliknya, Ketak Art Shop.

Ajang pameran, menurutnya, menjadi salah satu pembuka jalan bagi usahanya. Kini produknya sudah tersebar hingga mancanegara, termasuk Jepang dan Korea Selatan. Ia merasa diuntungkan dengan program kemitraan dari Bank Mandiri. Usahanya dapat dikenal lebih luas tanpa dipungut biaya. “Kalau harus beli stan, enggak mampu kita he he he.Sangat bersyukur diberi tempat untuk memasarkan produk,” jelas laki-laki yang tinggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat.Lama-lama jadi bukit Kisah Lusia dan Hamid bisa menjadi inspirasi. Sejak duduk di bangku SMP, Lusia sudah hobi menjahit dan menyulam. Kesibukan sebagai ibu rumah tangga sempat menyita perhatiannya. Baru ketika pindah ke Surabaya mengikuti tugas suami, Lusia mulai lagi menekuni hobi lamanya. Awalnya, baju dan kerudung yang dipakai ia beri sentuhan sulam tangan.

Seusai mengutak-atik pakaian, ia pun berinovasi mencoba teknik quilt dan patchwork untuk taplak meja dan sarung bantal kursi. Lusia mengaku pelajaran teknik quilt, applique, dan patchwork dilakukan secara autodidak, melalui panduan buku dan majalah. Ketiga teknik tersebut merupakan seni menggabungkan kain sisa/perca. Kain tersebut di tata, dibentuk, dan dijahit dengan baik. Tak disangka, kreasinya tersebut disukai kerabat dan tetangga sekitar rumah.

Dengan bermodal sekitar Rp5 juta, Lusia membeli benang khusus sulam, pemidangan, hingga jarum. Karena merasa masih belum baik dari segi teknik, Lusia pun belajar dengan guru profesional selama tiga hari. Kini usaha yang telah dijalani selama kurang lebih 14 tahun itu sudah mempekerjakan tujuh orang karyawan. Omzetnya mencapai Rp360 juta per tahun. “Baru bisa dibilang stabil setelah usaha berjalan selama empat tahun. Sekarang baju dan kerudung sulam sudah tidak saya buat.Saya fokus pada keperluan alat rumah tangga.Mendapat pengalaman tidak menyenangkan pun pernah, sudah dipesan, tetapi tidak jadi dibeli, he he he. Ya sudah, tidak apa, saya pikir ini bukan barang yang basi, masih bisa dijual lagi,” ujar ibu dua anak itu.

Sejak dua tahun lalu, Lusia mulai mengem bangkan penjualan melalui dunia daring. Sebelum mendapat bantuan, ia hanya menaruh produknya di dalam lemari. Calon pembeli datang karena promosi dari mulut ke mulut.Ia pun mulai belajar mengunggah foto produk ke situs miliknya supaya bisa dilihat khalayak luas. Sang suami yang sudah pensiun pun ikut membantu. Sang suami punya keahlian spesial, membuat pola yang akan menjadi detail produk, seperti boneka, gitar, dan pot bunga.

Lusia mengaku usahanya tidak menggunakan kain perca, sisa jahitan. Ia membeli kain dalam bentuk lembaran dan memotongnya sesuai dengan kebutuhan. Namun, sebisa mungkin ia tidak menyisakan kain tersebut untuk dibuang. “Biasa belanja di Surabaya, Tanah Abang, hingga beli online. Kalau memilih dan memegang kainnya sendiri, lebih puas.Biasanya sisanya berupa lembaran sekitar 1 sentimeter, atau berupa lembaran yang saya hibahkan,” jelasnya sembari memasukkan pembungkus tangan, atau thimble, agar tidak terluka saat melakukan teknik quilt. Hampir 90% produknya dikerjakan dengan menggunakan tangan. Dalam satu bulan, Lusia mampu menghasilkan dua bedcover, tas sebanyak 30-40 buah, dan cushion dan taplak meja 20 buah.Pesanan mengular Lain lagi kisah Hamid. Hampir sebagian besar masyarakat di daerah Mataram dan Lombok bekerja sebagai perajin anyaman dari rumput ketak. Hamid sendiri sudah sejak 1996 menekuni dunia anyaman dari rumput yang tumbuh liar. Mulai dari memetik, menganyam, menjemur, hingga pengasapan dilakukan sen diri. Ketika itu rumput liariar mudah sekali di dapat sehingga dia mengaku ku tidak perlu modal untuk membuat sebuah produk anyaman lalu menjualnya.

Hamid pun lantas memasarkan produk kerajinan tangannya ke daerah wisata Pantai Senggigi. Keberuntungan belum menghampiri.Penjualan di daerah tersebut justru dinilai kurang baik. Ia pun berinisiatif untuk menjual ke art shop tempat wisata lain di daerah Karang Asem, Bali. Tak dinyana banyak peminat. Pesanan pun berdatangan. Namun, saat sedang menikmati manisnya pesanan, Hamid harus kembali mengalami penurunan pemasukan akibat peristiwa bom Bali.

“Tapi saya terus bekerja meskipun penjualan sedang lesu. Lama-kelamaan pasar kembali dan kini saya menggunakan jejaring sosial untuk memasarkan. Permintaan semakin besar, perajin semakin banyak, rumput semakin susah sehingga saya perlu membeli dari daerah lain seperti Flores dan Kalimantan,” tutur laki-laki yang kini memantapkan diri sebagai pemasar.

Bahan baku rumput tersebut dijual per ikat yang berisi sekitar 100 batang. Satu ikat seharga Rp35 ribu. Dalam satu bulan Hamid membutuhkan rumput sebanyak 100-500 ikat. Bahan tersebut lantas dibagikan kepada perajin. Hasil penjualan kerajinan dibagi berdasarkan kuantitas yang dibuat perajin.

Meskipun enggan menyebut pendapatannya, Hamid mengakui bulan lalu mampu menjual produk sebanyak 600 unit, terdiri dari berbagai macam bentuk, mulai alas gelas, piring, hingga keranjang tempat pakaian kotor. Harga jual berkisar mulai Rp50 ribu hingga Rp1,5 juta.Dalam satu hari, imbuh Hamid, satu perajin dapat tiga unit alas gelas dan piring, sementara untuk tas atau produk yang besar, satu perajin dapat 1 unit dalam satu hari.

“Ini pewarnaannya dengan metode pengasapan sekitar empat hari. Sebelumnya dijemur selama dua sampai empat hari. Ini kuat, tidak bisa dimakan rayap, bisa dicuci, dan antipanas,” ujar Hamid yang memberikan pelatihan bagi masyarakat sekitar sehingga kini berperan sebagai pemasar. (M-3)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *